Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

"Save Rohingya" Berbuah Sanksi PSSI untuk Persib | Di mana Akal Sehat PSSI?

Bobotoh Melakukan Koreografi 'Save Rohingya'


Dalam dua hari terakhir, muncul tagar #KoinUntukPSSI di twitter. Tagar ini merupakan bentuk seruan dan protes terhadap PSSI yang menghukum denda Persib Bandung karena ulah suporternya yang memunculkan isu politik ketika sedang pertandingan.



Sanksi untuk Persib Bandung yang sebelumnya dituduh hoaks oleh Ratu Tisha (http://www.viva.co.id/bola/bola-nasional/956459-pssi-klarifikasi-sanksi-bobotoh-karena-save-rohingya) pada 13 September 2017. Namun, sanksi itu benar-benar dijatuhkan oleh Komisi Disiplin PSSI karena menganggap Bobotoh telah membawa isu politik lapangan sepak bola.

Keputusan Komdis PSSI yang menghukum Persib dengan denda 50 Juta Rupiah tertuang dalam Surat Keputusan 92/L1/SK/KD-PSSI/IX/2017. Dalam surat tersebut, Persib dinyatakan melanggar pasal 67 ayat (3) Kode Disiplin PSSI.

Surat Keputusan Komdis PSSI itu dijawab dengan seruan #KoinUntukPSSI di twitter dan diwujudkan dengan aksi nyata. Bahkan dalam penggalangan dan penyalurannya, Bobotoh bekerja sama dengan Rumah Zakat.

Cuitan di Twitter pun ramai dengan pertanyaan yang mengarah hujatan kepada PSSI. Sebagian besar menanyakan, mengapa dukungan terhadap kemanusiaan justru dianggap politik oleh PSSI. Sementara, dalam beberapa ajang sepak bola di dunia, sempat juga dilaksanakan aksi bela sungkawa terhadap korban Bom Paris, bukan dihukum oleh otoritas sepakbolanya, justru diapresiasi. Sementara di Indonesia, oleh PSSI, aksi dukungan terhadap Rohingnya, bukan masalah politiknya tetapi masalah kemanusiaannya, justru dianggap politik penuh. Maka harus dihukum denda.

Cuitan di twitter juga sangat beragam, dengan komentar yang aneh, menggelikan sekaligus satir. Salah satu cuitan di twitter yang cukup bagus mengusulkan agar koin yang terkumpul dari gerakan #KoinUntukPSSI dialihkan untuk membantu Rohingnya, bagaimana dengan dendanya? Ada yang mengharap ada pengusaha yang menanggung biaya denda.

Nah, karena ini adala opo-SISI, selalu berusaha melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang lain. Memang, PSSI khususnya Komisi Disiplinnya seakan-akan tidak memiliki akal sehat terhadap kejahatan kemanusiaan yang sedang menimpa etnis Rohingnya, tetapi di satu sisi Komdis PSSI juga harus menerapkan peraturan yang telah ada. Masalah Rohingnya memang masalah kemanusiaan, tetapi juga berkaitan dengan politik juga. 

Maka, ada jalan tengah yang bisa ditempuh oleh Komdis PSSI, misalnya:

Pertama:

Denda yang dibebankan kepada Persib yang sebesar 50 juta rupiah dialokasikan sebagai bantuan kemanusiaan terhadap etnis Rohingnya yang sedang mengungsi. Baik yang mengungsi di Bangladesh maupun di wilayah Indonesia. 

 Kedua:

Komdis PSSI tidak apa-apa menghukum denda Persib 50 Juta, karena menegakkan disiplin, tetapi para pejabat PSSI harus menunjukkan kepada publik bahwa mereka juga punya akal sehat, punya hati nurani, punya kepedulian terhadap kemanusiaan dengan cara apa saja yang bisa mereka lakukan. Mungkin, menyumbangkan sebagain harta pribadinya untuk membantu para pengungsi. Hal ini sejalan dengan kredo: Hukum harus ditegakkan meski langit runtuh!

Kita Patut Bersyukur

Bukan bersyukur terhadap apa yang terjadi di Rakhine yang menimpa etnis Rohingnya, tetapi bersyukur atas Sanksi PSSI untuk Persib. Hal ini bisa menumbuhkan kembali rasa persatuan anak bangsa. Rasa kemanusiaan publik sepak bola.

Citra yang melekat pada para suporter bukan hanya tukang tawuran atau tukang bikin rusuh, mereka (juga kita semua bangsa Indonesia) adalah orang yang punya sikap gotong-royong, dan peduli terhadap semua. Sesuai dengan cita-cita besar para pendiri bangsa yang ingin ikut melaksanakan ketertiban dunia dengan tujuan tercapainya perdamaian abadi bukan hanya di Bumi Nusantara tetapi di seluruh dunia.

Kita semua masih punya akal sehat, tentu PSSI juga!

Posting Komentar untuk ""Save Rohingya" Berbuah Sanksi PSSI untuk Persib | Di mana Akal Sehat PSSI?"